Cari Blog Ini

Rabu, 11 November 2009


MAK COMBLANG

jodoh. Ya, membicarakan tentang jodoh memang tak ada habisnya. Seperti layaknya membicarakan tentang cinta. Begitu amat panjang bila dijabarkan. Entah itu dalam pengertian cinta menurut (secara) universal maupun secara fitrah manusia.Tak ada ujungnya. 3T ; Terus, Terus dan Terus. Menarik untuk dibicarakan. Asalkan jangan sampai terjebak dan terjerat dalam situasi dan kondisi yang dilarang agama dan membahayakan diri sendiri.



Tapi bagaimana jika hal itu—yang kita inginkan dalam artian mencari jodoh ternyata terhalang oleh situasi dan keadaan? Misalkan sibuk bekerja dan tak ada waktu. Tak sempat dilakukan dengan cara mencari sendiri. Padahal banyak berbagai macam halangan yang sering dialami oleh kita dalam konteks mencari jodoh.



Dan hal ini pulalah yang sering (banyak), khususnya dialami oleh para kaum hawa. Para perempuan yang ingin segera menggenapkan separuh dien-Nya itu tapi tak bisa dan tak sempat dilakukanya sendiri. Terlebih bagi mereka, perempuan yang sangat sibuk bekerja (wanita karier) tentunya hal ini untuk mencari jodoh sendiri tak mudah dan segampang membalikan tangan. Padahal dari segi financial (keuangan) sudah mapam, karier oke apalagi soal pendidikan. Rata-rata masing-masing dari mereka sudah ada yang mengantongi S1 bahkan sampai ada yang mengantongi gelar master. Namun sayang seribu sayang financial yang sudah memadai, karier oke serta pendidikan yang menunjang tapi sayangnya tidak dibarengi serta merta dengan kesuksesnya. Dalam hal ini kesuksesan mencari dan mendapatkan soal jodoh. Alias, pendamping hidup. Seperti saya temui baik di dalam dunia kerja maupun di sebuah organisasi. Banyak dari kaum perempuannya yang menunda-nunda menikah lantaran asyik dengan dunianya. Dunia kerja maupun dunianya (hobi) hingga keharusan untuk menikah jadi tersendat.




Perlu diketahui padahal sudahlah jelas apa yang mereka miliki semua itu bukan hal yang terpenting. Dikarenakan semua yang mereka lakukan itu adalah sudah jelas-jelas itu adalah merupakan hak tanggungjawab seorang suami jika kelak mereka menikah nanti Dan kewajiban itu ada di tangan seorang suami yang wajib menafkahkan keluarga seutuhnya. Walau dalam hal ini: bekerja dan menuntut ilmu itu tak dilarang. Tentunya kita sebagai seorang perempuan yang shaleh tentu akan mengetahui hal itu. Apa kewajiban semestinya dilakukan. Tak lain mengurusi rumah tangga, anak-anak serta suami. Hingga hal ini tercetus dalam anekdot yang sering saya dengar. Seorang istri (perempuan) harus ada dan bisa melakukan hal ini. 3 D; di kasur, di sumur dan di dapur. Tentu saja hal itu lumrah dilakukan sebagai (kodrati) seorang perempuan.


Nah, untuk mempermudahkan jalan itu bagaimana caranya? Agar mendapatkan jodoh sebagaimana ikhtiar kita. Jodoh yang kita inginkan kalau bisa benar-benar sesuai kategori. Tak lain dan mau tak mau kita menggunakan dan memakai jasa yang sering kita dengar. Familiar di telinga. Yang pernah kita dengar dengan istilah mak comblang. Ya, mak comblang sebagai jalan alternativ dan ikhtiar terakhir kita untuk mendapatkan jodoh yang sesuai kategori yang diinginkan.


Tapi untuk lebih jelasnya untuk mengetahui sepak terjang kinerja mak comblang tidak salahnya kalau kita mengetahui bagaimana sih cara mereka membantu dan mencari kita jodoh (pendamping) kita nanti. Inilah uniknya bagi kita yang memakai jasa mak comblang.



Tentunya sesuai dengan namanya, mak comblang memiliki “misi” khususnya untuk menjalankan pekerjaan itu. Mencarikan jodoh untuk kita. Punya pekerjaan tersendiri. Dahulu dalam masyarakat Betawi tempo doeloe istilah mak comblang sangatlah tersohor. Beken. Mak comblang adalah merupakan sosok yang amat penting untuk membantu dalam kelancaran kita mencari jodoh. Keahliannya dalam urusan perjodohan sudah jelas tak diragukan. Tetapi dalam hal ini kita dalam memakai jasa mereka tentunya tak sembarangan. Harus pandai-pandai memilih dan mencari. Biasanya mak comblang yang sering dipakai jasanya dalam mencari jodoh (pendamping) hanyalah orang-orang yang dapat dipercayai keamanahan-nya dan juga keamanan privacy. Bukan orang sembarangan!



Biasanya mak comblang yang sering dipercayai adalah dari orang-orang terdekat. Entah itu bisa dari kalangan sauadara, kerabat maupun bisa sahabat sendiri. Satu point yang harus ada dalam diri mak comblang tentunya harus berpengalaman (sudah berkeluarga) dan juga sudah berumur (paru baya) agar tidak menimbulkan fitnah. Biasanya mak comblang itu punya keahlian sendiri. Misalnya, ia pandai berbicara, supel dan pandai bergaul. Agar dalam “misinya” sesuai dengan “pesanan” tidak diragukan lagi. Itulah misi dari seorang mak comblang didalam masyarakat Betawi. Halnya sama dengan para mak comblang sesuai dengan zamannya. Tapi hal itu jangan menjadi patokan kita. Kita juga harus tetap berikhtiar. Berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan lantas ada jasa mak combalang kita cuek bebek.



Dan itu saja kita tak cukup! Kita juga harus tahu dan harus menerima dengan lapang dada. Legowo. Kalau-kalau apa yang sudah diusahakan dan diupayakan oleh mak comblang berakhir tidak mulus. Ada yang saja tidak sesuai dengan harapan kita. Dalam hal ini pencarian jodoh. Jauh dari keinginan dan harapan kita. Terlebih jauh dari kategori yang kita inginkan. Kita harus benar-benar menerima dengan ikhlas. Ingat mak comblang juga manusia. Dia bukan Tuhan apalagi orang super. Yang serba tahu hati setiap manusia. Dan kalau pun itu benar terjadi. Jodoh yang kita harapkan dan kita inginkan tak sesuai harapan kita dan dicarikan oleh mak comblang tentunya kita harus sportif. Tidak menyalahkan mak comblang yang sudah bersusah payah mencarikan kita jodoh. Ingat mereka itu perantara kita. Bila itu benar-benar kita alami ada satu jalan yang harus dilakukan oleh kita sebagai seorang beriman. Mengadulah pada Allah Yang Kuasa. Karena Dialah tempat mengadu dan yang mengetahui apa yang diinginkan umatNya. Andai pun kalau jodoh kita tidak (ada) lagi di tangan mak comblang cobalah kita tetap tegar, survive, istiqomah dan berikhtiar kepadaNya. Minta kepadaNya. Bukankah Allah pernah berkata:Berdo’alah kamu maka akan Aku kabulkan! So, sudah jelaskan bahwa jodoh bukan saja ada di tangan mak comblang tetapi Dialah Yang Maha Segala-galanya. Karena jodoh bukan ada di tangan mak comblang melainkan di tangan Tuhan Yang maha Kuasa. Setuju?*(fy)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar